Thursday, September 2, 2010
Siapa bilang ibu rumah tangga nggak keren?
Di era global seperti sekarang ini,impossible is nothing.
Berdasar pengalaman pribadi saya, keren nggak keren adalah mindset. Kalau diri kita sendiri mikirnya hal itu nggak keren, maka hari-hari seperti itulah yang akan kita jalani. Saya pun berangkat dari dunia karir kantoran, dan sekarang sangat bersyukur sudah menemukan dunia baru, and I'm so proud as a IRT :)
Tapi otak kita diciptakan untuk tidak terbatas. Di umur 20an, wanita dituntut oleh lingkungan dan mindset sekitar untuk tetap aktif (tanda kutip: aktif=mencari uang), makanya muncul pikiran2 orang luar kalau irt itu nggak keren. Benarkah nggak keren?
Jadi format wanita yang lebih keren adalah:
-berbaju blazer, pulang pergi kantor naik bus dan hak sepatu patah di bus karena berdesak2an?
-pulang jam 12 malam saat anak sudah tidur,berangkat jam 5pagi saat anak belum bangun?
-income habis 'hanya' untuk mengikuti lifestyle di kantor,sementara untuk beli makanan anak pun musti yang instan supaya lebih murah dibanding belanja ke pasar?
Sayangnya,masih banyak yang berpikir bahwa wanita kerja di kantor lebih tinggi derajatnya. Yang paling ironis kalau ada pria yang berpikir seperti itu, padahal dari awal jaman sudah dikisahkan tugas pria adalah "berburu" dan wanita "meramu" makanan. Banyak pria menggantungkan hidup dari kerjaan istri, dan mereka bangga dengan hal itu!!!! Menurut saya pribadi,itu memalukan. (Baca Kompas Minggu ttg pembantu rumah tangga infal) Wanita bekerja adalah selamanya 100% benar, tapi bekerja seperti apa? (Work smart)
Pengalaman kuliah dan karir saya sangat menyenangkan dan menghasilkan banyak sekali pola pikir yang bagus, selepas menikah dan punya anak biasanya wanita akan dihadapkan pada banyak hal kompleks. Setau saya, seorang mama yang baru aja punya anak,mau secuek apapun sifatnya,pasti nggak tega ninggalin anaknya yg baru 3 bln ke kantor (kecuali Anda wanita yang ngga punya perasaan ya,hehehe).
Begitupun saya. Untungnya, saya sudah resign dari kantor jauh hari sebelum hamil,karena ikut suami kerja di luar jawa. Seandainya saya baru resign setelah anak lahir, kayaknya utk tipe saya mungkin akan sedikit rindu masa2 kantoran. Pandangan orang luar "Sayang sekali kalau anak ITB cuma jadi ibu rumah tangga" udah saya serap dari dulu dan saya bertekad suatu hari saya akan membalas pikiran mereka. Tuhan Maha Baik, saya ditunjukkan jalan lain, dan dengan support terbesar tentunya dari suami saya (suamiku adalah pelindung wanita yang terbaik, thanks God I've found him), kerjaan apapun saya lakukan dari rumah, mulai dari freelancer design sampai sekarang saya mengembangkan usaha distro baby and kids, semua bisa dilakukan sendiri, bermodal HANYA INTERNET! Dimana hasilnya secara materi/uang justru berkali lipat dan membuat saya nggak mau kembali lagi kerja di kantor, hehehehe...tak ada keringat, tak ada polusi metromini masuk ke paru2 saya, setiap detik anak saya nangis saya ada disampingnya. Nggak ada seorangpun yang bisa membatasi ibu rumah tangga untuk "tampil keren",selain si ibu itu sendiri. Kalau Anda seorang IRT seperti saya, jangan pernah berkata ke diri sendiri "saya nggak bisa,saya nggak keren, saya nggak menghasilkan,dsb dsb". Segalanya berawal dari pikiran,kalau saya aja bisa, apalagi Anda! :)
Kalau Anda di depan komputer dan bisa mengakses tulisan ini, berarti Anda punya internet. U can do something with that, ribuan ibu "work @ home moms" sudah bergerak dengan toko onlinenya dengan omset puluhan hingga ratusan juta perbulannya, yuk gabung di dunia ini:)
Berdasar pengalaman pribadi saya, keren nggak keren adalah mindset. Kalau diri kita sendiri mikirnya hal itu nggak keren, maka hari-hari seperti itulah yang akan kita jalani. Saya pun berangkat dari dunia karir kantoran, dan sekarang sangat bersyukur sudah menemukan dunia baru, and I'm so proud as a IRT :)
Tapi otak kita diciptakan untuk tidak terbatas. Di umur 20an, wanita dituntut oleh lingkungan dan mindset sekitar untuk tetap aktif (tanda kutip: aktif=mencari uang), makanya muncul pikiran2 orang luar kalau irt itu nggak keren. Benarkah nggak keren?
Jadi format wanita yang lebih keren adalah:
-berbaju blazer, pulang pergi kantor naik bus dan hak sepatu patah di bus karena berdesak2an?
-pulang jam 12 malam saat anak sudah tidur,berangkat jam 5pagi saat anak belum bangun?
-income habis 'hanya' untuk mengikuti lifestyle di kantor,sementara untuk beli makanan anak pun musti yang instan supaya lebih murah dibanding belanja ke pasar?
Sayangnya,masih banyak yang berpikir bahwa wanita kerja di kantor lebih tinggi derajatnya. Yang paling ironis kalau ada pria yang berpikir seperti itu, padahal dari awal jaman sudah dikisahkan tugas pria adalah "berburu" dan wanita "meramu" makanan. Banyak pria menggantungkan hidup dari kerjaan istri, dan mereka bangga dengan hal itu!!!! Menurut saya pribadi,itu memalukan. (Baca Kompas Minggu ttg pembantu rumah tangga infal) Wanita bekerja adalah selamanya 100% benar, tapi bekerja seperti apa? (Work smart)
Pengalaman kuliah dan karir saya sangat menyenangkan dan menghasilkan banyak sekali pola pikir yang bagus, selepas menikah dan punya anak biasanya wanita akan dihadapkan pada banyak hal kompleks. Setau saya, seorang mama yang baru aja punya anak,mau secuek apapun sifatnya,pasti nggak tega ninggalin anaknya yg baru 3 bln ke kantor (kecuali Anda wanita yang ngga punya perasaan ya,hehehe).
Begitupun saya. Untungnya, saya sudah resign dari kantor jauh hari sebelum hamil,karena ikut suami kerja di luar jawa. Seandainya saya baru resign setelah anak lahir, kayaknya utk tipe saya mungkin akan sedikit rindu masa2 kantoran. Pandangan orang luar "Sayang sekali kalau anak ITB cuma jadi ibu rumah tangga" udah saya serap dari dulu dan saya bertekad suatu hari saya akan membalas pikiran mereka. Tuhan Maha Baik, saya ditunjukkan jalan lain, dan dengan support terbesar tentunya dari suami saya (suamiku adalah pelindung wanita yang terbaik, thanks God I've found him), kerjaan apapun saya lakukan dari rumah, mulai dari freelancer design sampai sekarang saya mengembangkan usaha distro baby and kids, semua bisa dilakukan sendiri, bermodal HANYA INTERNET! Dimana hasilnya secara materi/uang justru berkali lipat dan membuat saya nggak mau kembali lagi kerja di kantor, hehehehe...tak ada keringat, tak ada polusi metromini masuk ke paru2 saya, setiap detik anak saya nangis saya ada disampingnya. Nggak ada seorangpun yang bisa membatasi ibu rumah tangga untuk "tampil keren",selain si ibu itu sendiri. Kalau Anda seorang IRT seperti saya, jangan pernah berkata ke diri sendiri "saya nggak bisa,saya nggak keren, saya nggak menghasilkan,dsb dsb". Segalanya berawal dari pikiran,kalau saya aja bisa, apalagi Anda! :)
Kalau Anda di depan komputer dan bisa mengakses tulisan ini, berarti Anda punya internet. U can do something with that, ribuan ibu "work @ home moms" sudah bergerak dengan toko onlinenya dengan omset puluhan hingga ratusan juta perbulannya, yuk gabung di dunia ini:)
Tuesday, December 15, 2009
end of 2009
Finally, new year's comin'!!!! :)
Huahh beristirahat sejenak dari rutinitas setahun ini, tahun yang panjang, sekaligus tahun paling berkesan dalam hidup :) Thx God for everything, U gave me a perfect life, a perfect daughter, a perfect husband, a perfect job ( for this year, have no idea bout tomorrow,hehe) People may say that nobody's perfect, but i declare to myself that i have it, because without feeling a perfectness, we'll never say "thanks" to our Lord.
Welcome 2010, with new spirit, new passion, new expansion (maybe?), Merry X'mas and Happy New Year!
Huahh beristirahat sejenak dari rutinitas setahun ini, tahun yang panjang, sekaligus tahun paling berkesan dalam hidup :) Thx God for everything, U gave me a perfect life, a perfect daughter, a perfect husband, a perfect job ( for this year, have no idea bout tomorrow,hehe) People may say that nobody's perfect, but i declare to myself that i have it, because without feeling a perfectness, we'll never say "thanks" to our Lord.
Welcome 2010, with new spirit, new passion, new expansion (maybe?), Merry X'mas and Happy New Year!
Tuesday, December 1, 2009
Soulburger


Soulburger, hmm... proses yang panjaang dan laaamaa sampai akhirnya dapat hasil akhir seperti ini, smoga cocok sama keinginan penulisnya:) waktu bikin bawaannya lapar terus, ngliatin gambar burger melulu berhari-hari, hehehe
Beberapa alternatif lain: (gak smua dipajang, kebanyakannn saking sering ditolak, hehe)

Friday, July 10, 2009
30 Menit Photoshop

i've enjoyed my time when i was making this book:)
This is a common topics, that reason make it difficult to build some "photoshop sense" because lots of books over there have a good design on its cover. i've tried to make these 3 designs, number 2 had been chosen. i like number 3 also, because of its bright color.
well... what d u think? (anyway the strawberry on this cover makes me hungry)
New Clothes
Cihuii! Ganti baju ah blognya!

No,this template isn't my creation, thanks a lot to http://www.ipietoon.com , you should go there, very nice blog!
selamat berjalan-jalan di tampilan yang baru ini:)
No,this template isn't my creation, thanks a lot to http://www.ipietoon.com , you should go there, very nice blog!
selamat berjalan-jalan di tampilan yang baru ini:)
Wednesday, June 10, 2009
Tuesday, January 27, 2009
Legal Officer

Yang ini buku bidang hukum.
Yang dipilih yang warna merah, emang kebanyakan buku hukum lay out covernya simple kyk gitu sih ya... finishingnya pake polygold di bagian tulisan aja, sisanya finishing biasa.
Kalo 2 alternatif di sebelah kanannya siy aku coba bikin variasi baru dari buku-buku hukum yang biasanya, jadi nuansanya agak "ngepop" dan sekilas kayak buku manual guide ataw annual report(tapi kayaknya hukum susah ya di ngepop'in, hahaha)
Yang dipilih yang warna merah, emang kebanyakan buku hukum lay out covernya simple kyk gitu sih ya... finishingnya pake polygold di bagian tulisan aja, sisanya finishing biasa.
Kalo 2 alternatif di sebelah kanannya siy aku coba bikin variasi baru dari buku-buku hukum yang biasanya, jadi nuansanya agak "ngepop" dan sekilas kayak buku manual guide ataw annual report(tapi kayaknya hukum susah ya di ngepop'in, hahaha)
Buku APIQ
Kemaren jalan-jalan ke toko buku, ngga sengaja nemu ini :) eei ternyata coverku udah terbit... Isi bukunya menarik lho, tentang metode pembelajaran matematika, trus ada bonus kartunya juga... (walopun kayaknya aku musti baca ampe ngerti, hehe dah ketinggalan jaman kali, dulu blajar matematikanya masi jaman baheula siy...)



Yang kepilih cover yang atas warna merah. itu covernya dibuat depan blakang nyambung, jadi klo mo ngliat komplitnya musti dibuka lebar-lebar :p tapi klo lagi didisplay nggak terlalu kliatan deh nyambungnya, abis kliatan kan cuma cover depan aja, trus ketutup ama si bonus kartu pula, wekekeke....
tapi gapapa, so far seneng kemaren ngerjainnya, soalnya bisa pake warna yg warna warni bangettts... i'm bright color lovers!
tapi gapapa, so far seneng kemaren ngerjainnya, soalnya bisa pake warna yg warna warni bangettts... i'm bright color lovers!
Saturday, December 27, 2008
Merry Xmas and Happy New Year

This is just for fun, not a project :) (i also need my holiday, hahaha)
Merry Christmas and Happy New Year to all of you!
Thursday, December 25, 2008
Buku komputer lagi
Another book bernuansa teknologi komputer. Sempat nggak pede, jarang bikin cover untuk tema IT dan komputer, tapi kalau nggak dicoba nggak akan tahu, kan? :) Ini beberapa alternatifnya, konsep awalnya dari penerbit clean, dominan ke putih (jadi yang alternatif warna hitam di kiri bawah itu pasti langsung coret deh, hehe), akhirnya diambil cover yang gambar bola dunia. Content bukunya cukup menarik, jadi di cover depan aku cantumin beberapa point menarik dari isi si buku.Posting lagi...

Setelah lamaaa banget gak online, huahh akhirnya posting lagi...! Buku kali ini nuansanya teknologi, hihi tapi tetep eksekusi ujung-ujungnya ilustrasi imut juga. Waktu terima judulnya untuk dibuat cover seneng, soalnya sesuai hobi nge-blogku. Warna ilustrasinya dibuat cerah, dan fokus utamanya ke judulnya, jadi fontnya juga dipilih yang agak unik dan gampang kebaca... Ilustrasinya sengaja dibuat gender cowok, soalnya kalau cewek ntar jadinya kayak cewek metropop lagi maen internet dungs, hehehe...
Thursday, October 30, 2008
Life was like a box of chocolates

"Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get."-Forrest Gump
>> But i want more and more boxes of chocolate :p
Wednesday, October 29, 2008
Ratu Adil Mentas

Design for the book titled "Ratu Adil Mentas". This book tells about the Javanese legend, Satrio Piningit, the next Indonesian Leader who will bring us into brighter day. I made the visual looks like javanese culture, secret leader, kind of mysterious person, and quite mystical with blue and dark color (except design number 2) , and some ornaments.
Then, which is one of these have been selected as its cover? No one. Hahaha...

This is the final cover, thanks a lot to Mr. Wajendra who gave me this JPEG format for being uploaded here :)
Visit more : Ratu Adil Mentas
Sunday, October 26, 2008
Kesan Pertama Ada pada Sampul Buku
Sumber: Kompas
The first impression means everything! Demikian kalimat utama yang terpampang dalam salah satu website yang menawarkan jasa pembuatan sampul buku. Tulisan tersebut cukup menyiratkan pesan bahwa desain sampul buku itu sangat penting bagi keberadaan sebuah buku.
SEDEMIKIAN pentingnya hingga menyadarkan para penerbit bahwa para pembeli buku kini tidak hanya sekadar tertarik pada isi buku yang dijajakan, namun juga pada visualisasi sampul. Bahkan, sering kali sampul buku diposisikan sebagai pintu utama bagi calon pembeli untuk melihat lebih lanjut sebuah buku.
Hawe Setiawan, editor Penerbit Pustaka Jaya, mengungkapkan bahwa tidak dapat dimungkiri sampul telah menjadi etalase bagi sebuah buku di hadapan pembaca. "Yang sangat terasa kalau sedang pameran, orang melihat buku sering kali sepintas saja, kalo tampilannya menarik, baru orang memutuskan mendekat dan membeli," ujar Hawe.
Pengamatan terhadap perilaku konsumen dalam pembelian buku ini menarik untuk dikaji. Pasalnya, keberadaan sampul buku semenjak kemunculannya yang pertama kali-sejak dicetaknya kitab suci-masih berfungsi sebatas sebagai pelindung isi naskah yang telah disatukan. Kini, ketika buku telah menjadi salah satu komoditas, cara menyajikan pelindung isi naskah pun telah berubah, fungsi keindahan dan nilai bisnis dari sebuah sampul buku menjadi perhatian utama penerbit.
Di Indonesia sendiri, sampul buku mulai dikenal ketika masuknya buku-buku berjilid yang dibawa oleh orang Belanda. Tipografi di depan sampul masih sangat klasik dan konvensional dengan teknologi huruf timah. Namun, lambat laun ketika teknologi desain grafis semakin berkembang, para pembuat sampul buku menjadi lebih kreatif menghasilkan beragam kreasi sampul buku. Di awal tahun 1970-an, misalnya, teknologi offset sudah memungkinkan penggunanya untuk memindahkan gambar pada sampul buku, bahkan untuk mencetak sebuah karya perupa seperti yang sudah dipraktikkan oleh Penerbit Pustaka Jaya. Perkembangan demikian semakin mendorong nilai-nilai estetika sebuah buku bersama sampulnya.
Dalam teknologi percetakan dan desain grafis semakin terpacu oleh semakin ketatnya persaingan bisnis di dunia penerbitan buku. Dalam persaingan bisnis, para pelaku yang terlibat di dalamnya berlomba untuk memasarkan produknya agar konsumen berminat melihat dan membelinya. Kini, salah satu strategi bisnis dalam menjual buku adalah membuat tampilan fisiknya menarik, yaitu melalui desain sampul bukunya. Strategi ini diakui oleh beberapa penerbit hingga mereka merasa perlu mendesain sebuah sampul buku dengan baik. Pengalaman Penerbit Kiblat, Bandung, menarik dipaparkan. Bagi penerbit ini, untuk meraih pasar yang bagus tidak cukup hanya dengan membangun jaringan distribusi yang baik, namun harus dibarengi dengan tampilan fisik yang menarik pula. Sebelumnya, penerbit, yang berfokus pada penerbitan buku-buku sastra Sunda, ini sempat mengalami kecemasan karena sastra Sunda kurang disukai khalayak. Dalam kecemasan, mereka mencoba strategi baru, yaitu mencetak buku-buku sastra Sunda dengan tampilan fisik yang menarik sebagaimana tren sampul buku yang terjadi saat ini. "Ternyata pasar antusias dengan buku-buku Kiblat," ujar Rahmat Taufik. Kurun waktu dua tahun terakhir sudah 40 buku berbahasa Sunda yang mereka terbitkan dengan respons pembeli cukup baik. Penggantian sampul buku juga diyakini oleh Dorothea Rosa Herliany tidak hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga kesan masyarakat terhadap penerbit.
SEDEMIKIAN pentingnya hingga menyadarkan para penerbit bahwa para pembeli buku kini tidak hanya sekadar tertarik pada isi buku yang dijajakan, namun juga pada visualisasi sampul. Bahkan, sering kali sampul buku diposisikan sebagai pintu utama bagi calon pembeli untuk melihat lebih lanjut sebuah buku.
Hawe Setiawan, editor Penerbit Pustaka Jaya, mengungkapkan bahwa tidak dapat dimungkiri sampul telah menjadi etalase bagi sebuah buku di hadapan pembaca. "Yang sangat terasa kalau sedang pameran, orang melihat buku sering kali sepintas saja, kalo tampilannya menarik, baru orang memutuskan mendekat dan membeli," ujar Hawe.
Pengamatan terhadap perilaku konsumen dalam pembelian buku ini menarik untuk dikaji. Pasalnya, keberadaan sampul buku semenjak kemunculannya yang pertama kali-sejak dicetaknya kitab suci-masih berfungsi sebatas sebagai pelindung isi naskah yang telah disatukan. Kini, ketika buku telah menjadi salah satu komoditas, cara menyajikan pelindung isi naskah pun telah berubah, fungsi keindahan dan nilai bisnis dari sebuah sampul buku menjadi perhatian utama penerbit.
Di Indonesia sendiri, sampul buku mulai dikenal ketika masuknya buku-buku berjilid yang dibawa oleh orang Belanda. Tipografi di depan sampul masih sangat klasik dan konvensional dengan teknologi huruf timah. Namun, lambat laun ketika teknologi desain grafis semakin berkembang, para pembuat sampul buku menjadi lebih kreatif menghasilkan beragam kreasi sampul buku. Di awal tahun 1970-an, misalnya, teknologi offset sudah memungkinkan penggunanya untuk memindahkan gambar pada sampul buku, bahkan untuk mencetak sebuah karya perupa seperti yang sudah dipraktikkan oleh Penerbit Pustaka Jaya. Perkembangan demikian semakin mendorong nilai-nilai estetika sebuah buku bersama sampulnya.
Dalam teknologi percetakan dan desain grafis semakin terpacu oleh semakin ketatnya persaingan bisnis di dunia penerbitan buku. Dalam persaingan bisnis, para pelaku yang terlibat di dalamnya berlomba untuk memasarkan produknya agar konsumen berminat melihat dan membelinya. Kini, salah satu strategi bisnis dalam menjual buku adalah membuat tampilan fisiknya menarik, yaitu melalui desain sampul bukunya. Strategi ini diakui oleh beberapa penerbit hingga mereka merasa perlu mendesain sebuah sampul buku dengan baik. Pengalaman Penerbit Kiblat, Bandung, menarik dipaparkan. Bagi penerbit ini, untuk meraih pasar yang bagus tidak cukup hanya dengan membangun jaringan distribusi yang baik, namun harus dibarengi dengan tampilan fisik yang menarik pula. Sebelumnya, penerbit, yang berfokus pada penerbitan buku-buku sastra Sunda, ini sempat mengalami kecemasan karena sastra Sunda kurang disukai khalayak. Dalam kecemasan, mereka mencoba strategi baru, yaitu mencetak buku-buku sastra Sunda dengan tampilan fisik yang menarik sebagaimana tren sampul buku yang terjadi saat ini. "Ternyata pasar antusias dengan buku-buku Kiblat," ujar Rahmat Taufik. Kurun waktu dua tahun terakhir sudah 40 buku berbahasa Sunda yang mereka terbitkan dengan respons pembeli cukup baik. Penggantian sampul buku juga diyakini oleh Dorothea Rosa Herliany tidak hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga kesan masyarakat terhadap penerbit.
Ia menuturkan, kumpulan cerpennya Perempuan Yang Menunggu awalnya diterbitkan hanya 2.000 eksemplar. Selama lima tahun lamanya Rossa tidak pernah mendengar kabar cetakan pertama bukunya tersebut, apakah habis terjual atau tidak. Akhirnya, Rossa memutuskan menerbitkan ulang bukunya di penerbitannya sendiri dengan membuat sampul sendiri yang jauh lebih menarik. Hasilnya sangat memuaskan, yaitu 1.500 eksemplar bukunya habis dalam waktu 6 bulan, bahkan mengalami cetak ulang. Meski tidak dilakukan penelitian khusus bahwa peningkatan penjualan disebabkan oleh sampul buku, tidak menutup kemungkinan sampul yang eye catching mampu memikat pembeli. Bahkan, secara tidak terduga sampul buku kumpulan cerpen tersebut justru menjadi brand image terhadap penerbitannya. "Sekarang, walaupun sudah ada kumpulan cerpen yang lain, orang tetap mengingat yang itu saja," kata pemilik penerbitan Indonesiatera ini. Di mata Priyanto Sunarto, pengajar senior Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung, tuntutan akan tampilan sampul buku yang lebih baik, selain disebabkan oleh persaingan pasar dan perkembangan teknologi komputer, juga dapat dimungkinkan oleh pengalaman visual yang semakin baik dari masyarakat. Ia melihat masyarakat saat ini dapat membedakan desain sampul buku yang modern dan yang sudah ketinggalan zaman. Dalam kondisi seperti itu, para penerbit semakin merasa perlu menciptakan imaji dengan membangun konsep pada tiap jenis terbitannya. Anas Syahrul Alimi, pimpinan Penerbit Jendela dan Pustaka Sufi, misalnya, sangat menyadari hal demikian. Dalam praktik penerbitan, Anas kerap menyertakan simbol Islam untuk terbitan Pustaka Sufi dan gaya klasik untuk Jendela. Ilustrasi buku-bukunya sering kali diambil dari buku-buku impor yang kemudian diberi credit title. Pengalaman visual konsumen itu juga dirasakan oleh Anas dari hasil pengamatannya. Ia melihat pertama kali orang melihat buku dari sampul depan kemudian penulis dan sampul belakang. "Ada orang membeli buku bukan karena isi buku, tetapi karena sampulnya," lanjut Anas. Apalagi bagi orang yang sangat apresiatif terhadap karya seni rupa, isi menjadi tidak penting lagi, tetapi visualisasi yang ditampilkan sampul buku.
Menelisik Jejak Sampul Buku
Sampul buku tak dimungkiri adalah iklan untuk menarik pembeli sebelum teks di dalamnya dibaca. Namun demikian, sampul buku yang didesain sedemikian rupa menjadikan buku tidak sekadar sebagai informasi, melainkan sesuatu yang menunjukkan nilai hubungan antara si pembuat buku dan pembacanya. Pada awalnya sampul buku dikaitkan dengan fungsi penjilidan buku dan tidak memiliki elemen dekoratif. Sampul-sampul buku yang didesain khusus baru muncul pada abad 19 di Inggris. Salah satu buku yang menjadi pembicaraan pada masa itu di Inggris adalah The Yellow Book, an Illustrated Quarterly, Volume One, April 1894 dengan desainer Aubrey Beardsley dan Oscar Wilde. Setelah tahun 1900, sampul buku mulai dianggap sesuatu yang umum digunakan meskipun sebagian besar bentuknya hanya mengulang cetakan dari penjilidan buku. Ada beberapa buku yang juga menambahkan informasi di sampul belakang, tetapi hanya sedikit buku yang mencantumkan semacam ringkasan isi buku sebagai sebuah promosi. Gambar-gambar biasanya banyak digunakan untuk buku-buku tertentu, terutama buku cerita anak-anak. Adanya persaingan yang cukup tinggi di dunia perdagangan buku pada masa menjelang perang dunia pertama, membuat beberapa penerbit merasakan perlunya buku digarap oleh desainer khusus, seperti halnya para perempuan memiliki penjahit khusus untuk desain baju-baju mereka. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa sampul buku akan mendongkrak nilai tambah buku. Sayangnya, perkembangan ini terpaksa berhenti selama perang dunia pertama dan pulih kembali setelah tahun 1920-an hingga 1930-an. Selama periode ini, terjadi perkembangan periklanan dan studi mengenai penjualan. Tingginya angka penjualan pada barang-barang bermerek dan komoditas dengan kemasan khusus, memberi inspirasi pada para penerbit untuk membangun sebuah citra produk dan menciptakan berbagai genre buku yang mudah dikenali oleh para pembaca. Pada masa itu, citra visual juga mulai dikenal luas masyarakat setelah penemuan "gambar hidup" atau film. Akibatnya, para pembaca mulai terbiasa menikmati citra visual sebaik membaca teks tertulis. Pejalanannya, perkembangan teknologi separasi warna turut mempengaruhi kualitas efek visual yang lebih tajam. Teknologi ini pun ikut menghidupkan kegiatan akademis sehingga para penerbit saat itu bisa berkolaborasi dengan akademisi di bidang seni desain. Situasi seperti ini dan ditambah dengan kondisi pasar yang lesu setelah depresi ekonomi pada gilirannya berpengaruh mengaburkan batas antara seni "komersial" dan seni "tinggi".
Peluncuran buku-buku dari Penerbit Penguin Books mengubah sejarah penerbitan buku, khususnya di Inggris menjelang tahun 1940-an. Penerbit ini berhasil menciptakan citra produk melalui desain sederhana sampul buku-bukunya, termasuk penciptaan simbol penguin dan pemilihan jenis paperback yang membuat harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan buku-buku penerbit lain yang umumnya dicetak dengan hardback. Penguin juga membuat ciri khas warna untuk setiap jenis buku yang diterbitkannya: jingga untuk buku fiksi, biru gelap untuk biografi, hijau untuk buku tentang kriminalitas dan misteri.
Era tahun 1960-an hingga tahun 1970-an terjadi lonjakan buku-buku paperback, mengikuti jejak penerbit Penguin. Masa ini, buku-buku terbitan Penguin tetap memakai karakter khas untuk setiap jenis buku, namun elemen visual dengan gambar-gambar menarik tampak lebih dominan dibandingkan dengan elemen visual huruf pada awal berdirinya Penguin. Penemuan teknologi pencetakan berwarna yang murah, airbrushing serta lettraset ikut mendorong perkembangan ini. Terlebih pemakaian komputer memungkinkan para desainer bereksplorasi tanpa batas.
Saat ini, teknologi kembali beraksi. Teknologi memungkinkan kehadiran buku-buku digital atau e-book. Namun, sekalipun kini mulai mengisi pasar, tidak otomatis membuat era buku- buku Guttenberg berakhir. Paling tidak belum saatnya.
Peluncuran buku-buku dari Penerbit Penguin Books mengubah sejarah penerbitan buku, khususnya di Inggris menjelang tahun 1940-an. Penerbit ini berhasil menciptakan citra produk melalui desain sederhana sampul buku-bukunya, termasuk penciptaan simbol penguin dan pemilihan jenis paperback yang membuat harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan buku-buku penerbit lain yang umumnya dicetak dengan hardback. Penguin juga membuat ciri khas warna untuk setiap jenis buku yang diterbitkannya: jingga untuk buku fiksi, biru gelap untuk biografi, hijau untuk buku tentang kriminalitas dan misteri.
Era tahun 1960-an hingga tahun 1970-an terjadi lonjakan buku-buku paperback, mengikuti jejak penerbit Penguin. Masa ini, buku-buku terbitan Penguin tetap memakai karakter khas untuk setiap jenis buku, namun elemen visual dengan gambar-gambar menarik tampak lebih dominan dibandingkan dengan elemen visual huruf pada awal berdirinya Penguin. Penemuan teknologi pencetakan berwarna yang murah, airbrushing serta lettraset ikut mendorong perkembangan ini. Terlebih pemakaian komputer memungkinkan para desainer bereksplorasi tanpa batas.
Saat ini, teknologi kembali beraksi. Teknologi memungkinkan kehadiran buku-buku digital atau e-book. Namun, sekalipun kini mulai mengisi pasar, tidak otomatis membuat era buku- buku Guttenberg berakhir. Paling tidak belum saatnya.
Thursday, October 16, 2008
No Title
This is an illustration for a children book but i canceled this job in the middle of the process for some reason, hehehhh... ;pBut the book is coming soon now (with illustration from another people, of course...) , i think it's okay to put it here in my blog :)
Friday, September 12, 2008
Sejuta Warna Dunia Mia


Sejuta Warna Dunia Mia berkisah tentang seorang gadis yang unik. Bagi dirinya, suara, angka dan huruf memiliki warna. Jadi, ketika masalah di sekolah memaksa Mia mengungkapkan rahasianya, dia merasa seperti orang gila. Namun, benarkah semua itu hanya imajinasi Mia? Ataukah dia menderita penyakit tertentu?
Ilustrasi ceria dengan warna-warni yang "aneh", pohon tidak selalu berwarna hijau, rumput tidak selalu berwarna hijau menggambarkan "Dunia Mia" yang memang berbeda dari anak-anak sebayanya. Tambahan icon seorang cewek yang sedang mengecat di latar depan melambangkan bahwa dunia penuh warna itu adalah dunia ciptaan Mia, ia sendiri yang memiliki dunia itu, orang lain tidak.
Friday, August 8, 2008
Princess Masako

Buku ini mengisahkan drama dan nestapa Masako Owada, perempuan modern yang hidup di tengah sistem tradisional Kerajaan Jepang. Tak bisa menghasilkan keturunan lelaki guna menjaga keberlangsungan dinasti kerajaan yang telah berusia lebih dari 2600 tahun, Putri Masako terpaksa menanggung tekanan berat dari the Imperial Household Agency (Kunaicho). Bagai burung yang hidup dalam sangkar emas, batin Masako menjerit meski status sosialnya sebagai Putri Mahkota tergolong mulia.
Cover bernuansa merah dengan hiasa bunga Sakura menggambarkan suasana hati Princess Masako yang penuh keberanian tapi sekelilingnya dipenuhi tekanan. Gambar boneka wanita Jepang bernuansa wajah sendu menggambarkan situasi Masako yang sering "disetir" untuk mengikuti keinginan lingkungan sekitarnya.
Rahasia Tempat Kerja


Ilustrasi untuk buku Rahasia Tempat Kerja Penuh Semangat dan Menyenangkan. Ilustrasi bernuansa menyenangkan (fun) , eye catching, dan ceria. Gambar api sebagai latar belakang menggambarkan semangat tinggi, karyawan yang berpose berlari sambil tertawa juga menggambarkan suasana yang menyenangkan saat melakukan pekerjaan.
Buku yang tidak terlalu tebal ini berisi tips-tips untuk bekerja dengan semangat tinggi di lingkungan kantor, membangun hubungan dengan karyawan, dan cara mengembalikan semangat karyawan yang menurun di masa sulit.
www.serambi.co.id

Tuesday, July 29, 2008
Diary Si Musuh Geng Kodok
Another illustration for children's book. I've got the concept of illustration from the editor, then i tried to make it bright, colorful, and fun.First concept, the illustration was composed with some children's favourite like candies, biscuit, etc. And i made the background "taste" like "wood", so you can feel the situation of "camping" as the illustration.
Finally, the last concept contains red as the main color.This is brighter, and very eye catching.
http://www.penerbitatria.com/


Subscribe to:
Posts (Atom)







